Bintunipos.com,– Harapan besar demi generasi muda Teluk Bintuni mampu berdiri tegak dan bersaing di tanah sendiri menguat dalam Open House dan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas Teluk Bintuni (P2TIM), Rabu (15/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kampung Beimes SP 5 itu bukan sekedar forum diskusi, tetapi menjadi ruang pertemuan gagasan antara pemerintah, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan masa depan sumber daya manusia (SDM) Teluk Bintuni di tengah geliat proyek strategis nasional, khususnya sektor migas.
Sejak pagi, peserta diajak melihat langsung proses pelatihan di P2TIM. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengunjungi jurusan seperti electrical, welding, scaffolding, digger, hingga hospitality. Interaksi hangat terjadi, tanya jawab mengalir, rasa kagum pun tak terbendung saat menyaksikan bagaimana anak-anak daerah ditempa dengan keterampilan teknis dan karakter kerja.
Namun, inti dari kegiatan ini bermuara pada FGD yang berlangsung setelah kunjungan. Di forum tersebut, suara dari pesisir hingga wilayah pegunungan berpadu dalam satu harapan yang sama: P2TIM harus dipertahankan.
Para kepala distrik, tokoh adat (Todat), dan tokoh masyarakat (Tomas) menilai keberadaan P2TIM telah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas SDM lokal.
Lembaga ini dianggap menjadi jembatan penting agar masyarakat Teluk Bintuni tidak hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus investasi, tetapi ikut mengambil peran sebagai pelaku utama.
“P2TIM ini sudah terbukti. Anak-anak kita bisa kerja di berbagai daerah, bahkan sampai luar negeri. Ini harus terus ada dan diperkuat dengan menambah durasi pelatihan menjadi 6 bulan, dimana 3 bulan pelatihan dan 3 bulan magang ke perusahaan industri dan migas sebelum siswa diterjunkan ke dunia kerja,”ujar beberapa peserta FGD.
Tak hanya itu, forum ini juga mendorong adanya sinergi yang lebih konkret antara perusahaan migas, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Salah satu usulan yang mencuat adalah agar perusahaan yang beroperasi di Teluk Bintuni membuka kantor cabang di Bintuni, guna mempermudah akses kerja bagi tenaga lokal sekaligus mengontrol arus tenaga kerja dari luar dengan sebuah regulasi berupa Perda.
TCM P2TIM Teluk Bintuni, Paskalina Yamlean, menegaskan bahwa open house ini merupakan langkah keterbukaan lembaga kepada publik. P2TIM ingin memastikan bahwa arah pelatihan yang dijalankan tetap relevan dan selaras dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kami ingin mendengar langsung masukan dari masyarakat dan stakeholder. Apa yang perlu diperbaiki, di mana celahnya, dan bagaimana kita bisa berkolaborasi lebih baik untuk menghasilkan SDM yang siap kerja,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa P2TIM adalah lembaga pelatihan, bukan penyalur tenaga kerja. Namun demikian, pihaknya terus berupaya menjembatani lulusan agar mampu mengakses peluang kerja secara lebih luas.
FGD ini menjadi refleksi bersama bahwa tantangan pembangunan SDM tidak bisa dipikul sendiri. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar pelatihan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan berdampak nyata.
Sejak berdiri pada 2017 melalui kerja sama Pemkab Teluk Bintuni dan Petrotekno Technical School, P2TIM telah melahirkan alumni yang kini bekerja di berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara seperti Qatar, Taiwan, dan Brunei.
Fakta ini menjadi bukti bahwa anak-anak Teluk Bintuni memiliki daya saing tinggi. Dengan pelatihan yang tepat, mereka mampu menembus batas dan membawa nama daerah ke tingkat global.
Pada akhirnya, forum ini mengingatkan kembali bahwa kekayaan sumber daya alam (SDA) Teluk Bintuni harus berjalan seiring dengan kesiapan sumber daya manusianya.
Tanpa itu, peluang hanya akan lewat begitu saja.
P2TIM, bagi banyak pihak, bukan sekedar lembaga pelatihan melainkan harapan. Harapan Buagar suatu hari nanti, masyarakat Teluk Bintuni benar-benar menjadi tuan di negeri sendiri









